• Artikel Terbaru

    Senin, 27 Februari 2017

    Cerpen Cinta - Rindu Yang Terlarang

    Advertisement
    Advertisement
    Dibawah ini adalah sebuah cerpen cinta yang ditulis oleh seseorang yang bernama Ikke Nur Vita Sari dengan judul Rindu Terlarang, silahkan dibaca sampai selesai yah :

    RINDU TERLARANG
    Karya Ikke Nur Vita Sari

    Terik mentari menyapa langkahku, pagi ini aku tiba di Bandara Djuanda Surabaya karena jadwalku sangat padat ada beberapa Rumah Sakit yang harus aku kunjungi. ”Selamat pagi Dokter Cantik,kita langsung ke rumah sakit ya?” ucap Dokter Heru yang pernah bertemu denganku di Seminar Kedokteran bulan lalu, ”Iya Dokter” jawabku sambil menurunkan barang-barang untuk di pindah ke sebuah Taxi. Tujuanku ke Surabaya bukan hanya mengunjungi rumah masa kecil, aku juga mendapat panggilan dari beberapa Rumah Sakit untuk membantu mereka dengan gaji yang cukup menggiurkan. Aku jadwalkan satu minggu di Surabaya, ada beberapa rapat dan juga Seminar yang aku ikuti bahkan aku menjadi tamu undangan yang istimewa,”Saya kira dokter tidak jadi datang,katanya ada peresmian Rumah Sakit baru di Sulbar” ujar Dokter Heru,”Jadi Dok,peresmiannya sudah satu minggu yang lalu jadi saya bisa datang ke Surabaya setelah peresmian itu”, ”Okey Dokter,saya akan mengajak anda berkeliling di rumah sakit ini” aku tersenyum melihat Dokter Heru, meski sudah setengah baya tetapi ia memiliki semangat yang lebih besar dari dokter muda. Aku melihat sebuah pesan dari ayah dan ibu, mereka sudah tiba di rumah nenek yang ada di desa kecilku.Rumah nenek yang satu tahun lalu aku buatkan untuk tempat bernaung nenek dan adik laki-laki ibu, rumah kecil sederhana yang nyaman.

    Beberapa hal terkadang membuat aku penat,aku menelfon Yessi teman baikku saat masih SMA. Ia mempunyai rencana akan mengadakan pesta pertunangan dengan kekasihnya bulan depan,kembali aku teringat pada seseorang yang dulu selalu menemaniku. ”Hallo” sapaku, ”Hallo ada apa?” ucap seseorang di seberang sana, ”Kamu sibuk?”, ”Iya ada apa?”, ”Aku kangen sama kamu”, ”Oh”, ”Kamu kenapa sih?”, ”Kenapa?”, ”Kamu itu berubah,kamu cuek sama aku, kamu udah nggak kayak dulu lagi”, ”Kenapa sih kamu ini sensitive banget, coba kalau kamu yang marah,kenapa kamu itu lebay banget”, ”Kok kamu gitu,aku minta maaf” terasa sakit saat telfon terputus. Semenjak hari itu dia tidak lagi menghubungiku,bahkan setiap aku mengabarinya tak pernah ada respon sedikitpun.Hingga kini waktu telah berjalan 5 tahun lamanya,dia tetap tidak memberi kabar bahkan belakangan aku dengar dia sudah memiliki yang baru. ”Hallo” suara telfon diangkat, ”Hallo Yessi”, ”Oh hai Nay,apa kabar?”, ”Kabar baik,kamu gimana?”, ”Aku juga baik,kamu kapan pulang?”, ”Aku udah di Surabaya sekarang?”, ”Serius?”, ”Hm’mb ini lagi di rumah sakit”, ”Berapa lama kamu disini?”, ”Mungkin 6 bulanan atau 5 bulan gitu katanya”, ”Berarti kamu bisa donk dateng  ke acara nikahanku?”,”Kapan itu?”, ”Tiga bulan lagi”, ”Ya Insya Allah kalau aku nggak sibuk”,  ”Usahain ya nanti aku kasih undangannya”, ”Okey, nggak pengen kumpul-kumpul lagi?”, ”Pengen sih, tapi anak-anak banyak yang sibu”, ”Bulan depan kayaknya anak-anak ada waktu luang, gimana kalau kita ketemu di tempat biasa?”, ”Boleh aja” banyak cerita yang aku ungkapkan pada Yessi, sejak SMA dia menjadi salah satu teman terbaik yang selalu ada untukku bahkan sampai saat ini ia tetap sama seperti dulu.

    “Dokter Nayya,terima kasih atas bantuannya” ucap Dokter Heru yang sepertinya berat melepasku bertugas ke kota lain, ”Sama-sama Dokter,baik kalau begitu saya pamit”, ”Iya hati-hati Dokter Cantik”, ”Pasti” aku melempar senyum pada seluruh yang ada di rumah sakit.Satu bulan ini aku menghabiskan waktu di beberapa Rumah Sakit sekitar Surabaya,aku membawa motor menuju kota kecil lainnya seperti Probolinggo, Malang, Jember dan bahkan Lumajang. Tugas sudah terjadwal rapi, aku menuju ke Lumajang yang mendapat kesempatan untuk ku kunjungi lebih dulu.Lumajang kota pisang tercinta, aku mengunjunginya untuk segera bertemu ayah dan ibu yang sudah sampai satu bulan yang lalu. Keesokan harinya, aku berencana mengunjungi sahabatku semasa SMP,dia bernama Rossy yang saat libur sekolah pernah bekerja bersamaku di sebuah toko baju .Sesampainya aku di depan rumah itu,aku melepas helm dan membawa beberapa bingkisan buah tangan untuk keluarga Rossy dan teman-teman yang aku kenal disini.”Maaf mbak,cari siapa ya?” ucap Rossy, ”Rossy nya ada?” candaku, ”Aku Rossy,kamu siapa ya?”, ”Aku berubah banget ya,sampai kamu nggak ngenalin aku?”, ”Siapa ya?” Rossy terlihat seperti menyelidik, ”Aku Nayya,kamu inget nggak?”,”Oh ya ampun,apa kabar?” ucap Rossy dengan senyum mengembang dan memelukku. Rossy mengajakku masuk, ”Ada siapa di dalam?”, ”Ada Adhika, tunangannya, sama si Zen”, ”Terus itu yang satu?”, ”Itu Richie”, ”Ouh katanya kalian udah tunangan ya?” Rossy hanya tersenyum simpul. Aku memperhatikan seseorang yang duduk menghadap ke selatan, ”Ini Zen ya?” ucapku, ”Iya, kok tahu?”, ”Tahu lah, ini ada bingkisan buat kamu” aku tetap membiarkan Zen bingung dan bertanya-tanya, aku melihat kearah seseorang di samping Zen. ”Deuh sombongnya nggak mau nyapa aku, salaman dulu biar dosanya berkurang” ucapku,”Oh iya” ia menjabat tanganku dengan senyum tak terbaca,aku menatap di sampingnya lagi ada seorang gadis cantik duduk dengan anggunnya. ”Itu yang cantik siapa, aku belum kenalan”, ”Oh aku Fitri”, ”Nayya” aku menjabat tangannya lalu beralih ke cowok yang ada di samping Rossy,”Ini Richie, apa kabar nggak pernah tahu aku ya” Richie juga sama seperti Zen, masih terlihat bingung. Aku mulai mencairkan suasana dengan banyak cerita, ”Oh iya Ros, aku boleh pinjem kamar mandinya?”, ”Jangan, nanti Rossy nggak bisa mandi kalau kamar mandinya kamu pinjam” canda Richie, ”Tetep di belakang kok kamar mandinya terus kamarku juga ada di belakang” ujar Rossy.

    Aku meninggalkan mereka saat Rossy melihat isi ponsel yang sengaja aku titipkan padanya, dia duduk di samping Richie kekasih yang paling ia sayangi dan menurut cerita yang aku dengar mereka akan merencanakan pernikahan. Aku mencari alasan ke kamar mandi untuk mengurangi detak jantung yang tidak karuan saat melihatnya, ia duduk di samping Zen bersama tunangannya yang cantik jelita. Dia Adhika Mahaputra yang dulu pernah mengisi hidupku 3 bulan sebelum aku pindah meninggalkan Surabaya dan sekitarnya,namun sekarang ia sudah menemukan penggantiku.”Eh iya,aku udah siapin undangan buat kamu” ucap Rossy, ”Aduh yang mau nikah, aku di duluin donk”, ”Makanya cepet tentukan hari yang pas, siapa tahu bisa barengan?”, ”Ah kok jadi mikirin hari,calon aja belum ada”,”Masa’? Padahal banyak banget loh yang antri buat dapetin kamu”,”Iya,cuma belum nemuin yang cocok aja”, ”Oh gitu” aku menatapnya yang sedang bercanda dengan tunangannya. Aku merasa iri, padahal dulu di sampingnya adalah tempatku tetapi sekarang aku harus merelakannya menggantikan posisiku. Rossy bercerita banyak hal padaku, sempat ia bertanya tentang foto yang menjadi wallpaper ponselku, ”Siapa ini Nay?”, ”Oh itu,temen deket di kampus”, ”Ganteng loh”,”Iya dia anak fakultas hukum”, ”Ehmmmmm” aku beranjak pamit setelah beberapa lama berbincang dengan semua yang ada di rumah Rossy. Hari pernikahan Rossy pun tiba, aku terpaksa datang dengan baju dinas karena waktuku di kejar oleh pekerjaan di Rumah Sakit. ”Silahkan dokter cantik” ucap ibu Rossy mempersilahkan aku masuk, ”Ibu lupa ya sama saya?”, ”Siapa ya?”, ”Saya sahabat baiknya Rossy dari SMP, dulu saya pernah bekerja sama Rossy di toko baju”, ”Oh Nayya yang pernah sama Adhika dulu ya, makin cantik jadi dokter lagi” aku tersenyum karena ibu ini masih ingat betapa seringnya aku mengunjungi rumah Rossy bersama Adhika.Perbincanganku dengan ibu Rossy terhenti ketika banyak tamu, aku melihat Zen duduk bersama Adhika yang tetap selalu bersama tunangannya. ”Zen, katanya mau nyusul kapan ini undangannya?” candaku pada Zen, ”Oh iya kapan,kan sama kamu akunya”, ”Hahaha iya ya, kapan ya” aku melirik pergelangan tanganku, ”Oh iya Zen udah siang nih, aku duluan ya ada kerjaan” ucapku sambil melangkah pergi. Sesampainya di sebuah pondok, aku berhenti menyadari ponselku tertinggal tidak berapa lama sebuah motor berhenti di sampingku, ”Cari apa?” tanya Adhika, ”Ponselku”, ”Ini bukan?” Adhika menyerahkan ponselku dan tiba-tiba hujan turun begitu derasnya. Aku dan Adhika terpaksa masuk ke pondok, ”Kamu hebat ya, udah jadi doter sekarang” ucapnya, aku hanya tersenyum dan menatapnya tajam. ”Kenapa kamu mau di suruh balikin ponselku?”, ”Ya namanya juga di suruh”, ”Tunangan kamu cantik, kok nggak di ajak tadi?”, ”Fitri itu anak dari temennya nenekku, tadi dia lagi di suruh sama ibunya Rossy” aku kembali diam dan melihat hujan semakin lebat.
                           
    Memang tak pantas mengkhayal tentang dirimu
    Sebab kau tak lagi seperti yang dulu
    Kendati berat rasa rinduku padamu
    Biarkan ku hadang rinduku terlarang

    Aku menirukan kata-kata dalam syair lagu itu, syair yang menceritakan tentang kisah hidupku, ”Aku minta maaf,Nay”, ”Buat apa?”, ”Ya buat semua kesalahanku sama kamu”, ”Iya,aku udah maafin kok”.Semenjak kejadian itu,Adhika tidak lagi muncul dalam hidupku.Beberapa minggu kemudian,surat undangan pernikahan Adhika dengan Fitri sampai ke rumahku.Hari itu aku benar-benar merasa hancur,taka da lagi kesedihan yang bisa mengalahkan kesedihanku hari ini.
                   
    Ku puisikan rinduku padamu
    Ku harap tiada seorangpun tahu
    Biar ku simpan saja biar ku pendam sudah
    Terlarang sudah rinduku padamu

    Selamat tinggal Adhika, mungkin kita bukan jodoh dan aku harus merelakan cintaku kecewa. I LOVE YOU but YOU CAN’T BE MY MINE.

    Tidak ada komentar:

    Poskan Komentar