• Artikel Terbaru

    Senin, 27 Februari 2017

    Cerpen Cinta - Tentang Cinta dan Detik

    Advertisement
    Advertisement
    Berikut ini adalah cerpen cinta yang telah dirimkan oleh pembaca bernama Weni Putri Rahmadani dengan judul cinta dan detik, silahkan baca cerpennya dibawah ini :

    CINTA & DETIK

    Karya Weni Putri Rahmadani

    "Nay, aku mau bicara sama kamu. Minggu malam kamu bisa nggak ikut aku?" taya rafly pada nayla

    "Aku nggak tau, liat nanti aja" jawab nayla seraya pergi meninggalkan rafly di lorong kelas XI 3 IPA.

    Rafly sejak kecil dekat dengan nayla, namun beberapa waktu belakangan hubungan mereka merenggang karena nayla sudah berubah sifatnya.

    Rafly adalah siswa XI 1 IPA di SMAN 1 Semarang. Karena dia kelas urutan pertama, maka tak heran jika teman2 sekelasnya memiliki IQ yg melompat.

    Rafli cukup terkenal disekolahnya karena namanya selalu muncul ketika pengumuman juara kelas. Namun demikian, rafly tidak ingin dibangga2kan, ia hanya ingin diperlakukan sebagai orang biasa yg sama seperti lainnya.

    Berbeda dengan rafly, nayla lebih unggul di kelas IX 1 IPS, sebenarnya nayla dimasukkan ke kelas yg sama dengan rafly, namun ia menolak dengan alasan ia mencintai ilmu sosial.

    Nayla sangat terkenal disekolahnya karena kecantikannya yg menandingi putri indonesia. Nayla sangat cerdas, dan ia sangat bijak dalam mengambil keputusan, namun dia sedikit ceroboh dalam hal waktu.

    Sejak smp rafly sudah mencintai nayla, namun iya takut mengungkapkannya. Penyakit yg dideritanya sudah semakin parah, ia tak ingin meninggalkan luka di akhir hidupnya.

    Sudah 2 bulan belakangan ini penyakit kanker otak rafly menunjukkan gejala2 buruk. Seringkali rafly kehilangan kesadaran ketika berjalan. Kata dokter rafly harus banyak beristirahat, namun rafly nekat untuk sekolah. Rafly bukan laki2 yg lemah yg senantiasa menyerah pada nasib, rafly adalah laki2 yg sangat kuat.

    Kemarin rafly cek up ke dokter, dokter bilang rafly harus dirawat agar penyakitnya tidak semakin berbahaya, namun menolaknya, ia tidak ingin penyakit itu menaklukannya. Rafly bertekat ingin sekolah apapun yg terjadi padanya,

    "Nay, pulang yuk, udah sore" ajak rafly pada nayla sepulang ekskul

    "Ayo, tapi anter ke toko buku dulu ya, aku mau beli buku sejarah dunia"

    "Oke deh, ayo naik" mreka pun pergi.

    Marcel segera membawa rafly ke mobil dan menuju rumah sakit. diruang tunggu marcel dan mama menunggu dengan perasaan khawatir. mama rafly terus mondar mandir sambil menelpon papa rafly. beberapa menit kemudian dokter keluar ruangan.

    "Dok, gimana keadaan anak saya dok??" tanya mama rafly dengan sangat cemas.

    "Kanker rafly sudah mencapai stadium tertinggi. jika rafly bersikeras tidak mau dirwat inap, maka ini akan sangat berbahaya untuk hidupnya." jawab dokter.

    "Dok, boleh saya kedalam?"ucap mama rafly

    Dokter mengangguk. mama dan kakaknya rafly langsung masuk ke dalam ruangan.

    Diruangan, terlihat rafly yg terhubung dengan infus dan saluran pernafasan dihidungnya. wajah rafly tampak sangat pucat, dengan senyum yg msih menempel dibibirnya. ibunda rafly sangat sedih melihat anaknya berada dalam keadaan seperti itu. mama rafly duduk smbil menangis di samping tempat rafly berbaring. mendengar suara tanfisan dari wanita yg iya sayangi, rafly pun terjaga.

    "Ma, mama kenapa nangis? gara2 rafly ya ma..? maafin rafly, mama jangan nangis lagi..." ucap rafly dengan nafas yg masih brlum teratur.

    "Sayang, mama nangis bukan karena kamu, mama nangis karena..."

    "Karena apa mah??" potong rafly

    "Udah, kamu istirahat aja dulu, tuh nafas kamu masih setengah2. kta dokter kalo sakit gak boleh bawel" ucap marcel meledek

    "Tapi aku udah kuat aku udah sembuh, aku gak mau istirahat, aku gak mau disini aku mau pulang" ucap rafly kekeh

    Beberapa menit kemudian papa rafly tiba, dan berbiicara pada dokter tentang keadaan rafly

    Papa: Dok, gimana keadaan anak saya dok, apakah anak saya masih ada harapan untuk sembuh?

    Dokter: Keadaan anak bapak sudah sangat parah, kankernya sudah menjalar ke seluruh tubuhnya terutama jantungnya. Jika sudah begini, tenaga medis secanggih apapun tidak akan bisa menolong, karena seluruh tubuh anak bapak sudah rusak.

    Papa: Apakah tidak ada cara lagi dokter untuk menyembuhkan anak saya? Saya mohon dokter, sembuhkan anak saya. Berapapun biayanya akan saya bayar. Lakukan operasi dokter selamatkan anak saya

    Dokter: Mohon maaf bapak, penyakitnya sudah merusak seluruh jaringan tubuh anak bapak. Kami tim medis sudah tidak bisa melakukan apa2 lagi. Kalaupun harus operasi maka kami harus mengganti seluruh organ tubuh anak bapak. Dan operasi seperti itu memakan waktu yg sangat lama. Sedangkan waktu operasi tidak boleh terlalu lama. Dan jika kami melakukan operasi bergilir, maka itu akan membahayakan anak bapak. Maafkan kami pak, kami tidak bisa menolong anak bapak. Bersoalah saja semoga allah memberikan mu'jizat untuk anak bapak. Dari hasil pemeriksaan kami, anak bapak hanya memiliki waktu 7 hari untuk merasakan dunia ini. Pesan saya, anak bapak harus banyak istirahat dan jaga emosinya

    Papa: (terdiam lemas..)

    Setelah berbicara dengan dokter, papa masuk ke kamar rafly dengan raut wajah sedih dan suasana yg lemas. Saat papa masuk, dikamar rafly terlihat rafly tidur dengan wajah yang sangat pucat, tampak dingin, bahkan bagaikan tidak ada sosok di tempat tidur itu. Disamping tempat tidur ada mama rafly yg tertidur pulas dengan posisi duduk dalam keadaan menggenggam erat tangan rafly. Dipinggir ruangan terlihat marcel tidur di sofa yg berada di ruangan itu. Papa rafly memandang wajah anaknya dengan air mata yg mengalir. Hatinya terus berharap bisa melihat anaknya sembuh dan bahagia bersama semua org yg menyayanginya.

    Perlahan2 ia mengangkat lengannya dan menghapus air mata nayla dengan lembut. Hal yg slalu dilakukannya ketika nayla menangis.

    "rafly, lo udh bangun? Gue gue.. Gue berisik ya? Gua ngeganggu lu ya" ucap nayla terbata2 dengan merasa bersalah

    "nay, gw mau ngomong sesuatu ke lo" suara rafly terdengar semakin melemah

    "ngomong apa raf?"

    "kita selalu bareng kemana2, selalu ada di setiap suka maupun duka. Gue mau bilang, gw cinta sama lo nay, gw sayang..... Banget sama lo. Apa lo juga cinta sama gw?" suara rafly semakin lirih hampir tak terdengar.

    Tangis nayla semakin deras, ia tak menyangka sahabatnya memendam perasaan padanya

    "Raf, mau sampe kapanpun gw sayang sama lo. Gw... Gw cinta sama lo" nayla terbata2 dengan menahan tangis.

    "Makasih ya nay lo udh kasih gw kesempatan untuk ada dihati lo, sekarang, gw bisa pergi dengan tenang" perkataan rafly sangat lirih namun terdengar bahagia

    "Maksud lo?" tanya nayla bingung.

    1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 ngiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing........ Rafly menutup matanya dengan seulas senyum tipis di wajahnya.

    Mesin pendeteksi jantung berbunyi menandakan jantung berhenti berdetak. Nayla terkejut dan panik.

    "Dokteeer... Dokteer...." teriak nayla.

    Dokter langsung memasuki ruangan dan langsung menempelkan alat kejut jantung ke dada rafly. Berkali2 dokter mencoba, namun rafly tidak juga sadar. Allah sudah memanggil rafly ke syurganya. Kini rafly sudah beristirahat dengan tenang. Nayla dengan keluarga rafly hanya dapat menerima kenyataan, rafly telah tiada.

    Iringan pengantar jasad rafly semuanya mengucurkan air mata. Setelah jasad rafly di kuburkan, rafly sudah kembali ke asalnya, menyatu dengan tanah.

    "Raf, semoga lu berada disisi-NYA. Gw akan slalu mengenang lo. Gw tetap mencintai lo. Gw akan slalu mengenang cinta kita, walau hanya 7 detik, tapi tetap indah dihati gw. Slamat jalan raf.. Istirahatlah yg tenang.." nayla berpamit dri makam rafly, meninggalkan cintanya yang kini terkubur ditemani kafan...

    Profil Penulis:

    Nama: Weni Putri Rahmadani

    TTL : 01 Januari 1999

    FB : Weni Putri Rahmadani

    Twitter&instagram : @Weni_Rahmadani

    email : Wenirahmadani99@gmail.com

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar