• Artikel Terbaru

    Senin, 27 Februari 2017

    Cerpen Cinta - Tentang Cinta Sekejap

    Advertisement
    Advertisement
    Berikut ini adalah cerpen cinta yang telah dikirimkan oleh seorang yang bernama Lulu Aundhia Allam dengan judul cerpen cinta sekejap, silahkan dibaca sampai selesai yah :

    CINTA SEKEJAP
    Oleh Lulu Aundhia Allam

    Hiruk pikuk para remaja se-tingkat SMP menyelimuti bulan ramadhan tahun ini. Berbagai aktivitas tak pernah terlewatkan oleh para remaja pemula di kampung tempat tinggalku. Aku pun demikian. Hampir setiap hari berkali-kali menatap mata yang sama dan berkegiatan serupa dengan yang aku lakukan.

    Sungguh! Ramadhan tahun ini aku merasakan hal yang begitu berbeda. Entah mungkin angin sepoi-sepoi tengah menelanjangi mataku sehingga aku membuka lebar pintu hatiku untuk orang lain. Untuk seseorang yang tengah menaruh hati kepadaku dan berkali-kali aku menolak hati itu. Ah, apasih aku ini. Bulan ramadhan malah main cinta-cinta-an. Lagi pula masih SMP. Belum waktunya dan masih labil pula. Namun apa daya. Layaknya seorang remaja perempuan lainnya sekali disentuh hatinya maka akan mencair pula hati keras yang berjanji-janji untuk tidak pernah menjalin suatu hubungan, Entah apa yang membuatku begitu kilat memutuskan untuk berpacaran. Hatiku luluh begitu saja dirayu oleh seorang laki-laki yang bertempat tinggal tak jauh dari rumahku. Sangat dekat. Tak perlu motor atau bus untuk datang ke rumahnya. Sungguh aku tidak percaya!

    Awal mula aku dipaksa oleh seorang temanku yang berkerabat dengan si Nara. Dia adalah Hani, sahabat, tetangga sekaligus mungkin adik bagiku. Aku selalu mempercayai apapun yang ia katakan dan sudah seperti keluarga pula. Ia membujuk halus kepadaku untuk menerima cinta dari Nara. Apa iya aku akan berpacaran atas permintaan sahabatku sendiri? Aku pun mulai bingung.

    "Lin, kamu terima saja si Nara itu! Kasihan tau' dia ngejar kamu terus. Ingat nggak waktu itu dia sampai lari-lari bahkan mengitari kompleks demi bertemu denganmu dan menyatakan cinta", ungkap Hani kepadaku.
    "Untuk apa? Aku tidak mencintai dia, bahkan sempat dekat saja belum pernah".
    "Tak apa, kasihan dia. Sudahlah terima saja!"
    "Baiklah".

    Begitulah Hani yang dengan memancing rasa ibaku terhadap Nara yang memang beberapa waktu yang lalu mengejarku berlari-lari tak ada tujuan.

    Sehari kemudian, aku bersama teman-teman melaksanakan ibadah Tarawih di masjid sebrang desa. Karena disanalah tempat paling nyaman bagi remaja seperti aku dan teman-temanku. Seusai melaksanakan tarawih, aku tiba-tiba merasakan ada yang berbeda. Aku merasa hatiku terketuk, luluh, dan pasrah mungkin. Barang kali aku suka juga dengan Nara. Mungkin iya bisa jadi. Perasaan itu tumbuh begitu saja. Memang benar hanya butuh waktu seperempat detik saja untuk jatuh cinta kepada orang lain sedangkan butuh waktu seumur hidup untuk benar-benar melupakannya.

    Nara tengah berada di depanku, wajahnya memerah bak bunga di taman, bibirnya bergetar serasa kehilangan memori kata-kata yang seharusnya diucapkan, keringat mengalir lancar tepat dari dahi hingga ke lehernya. Sungguh! Benar-benar aku tidak bermimpi. Bagaimana mungkin seorang Lina terperangkap dalam perasaan cinta untuk pertama kali dan orang yang bersangkutan tengah berdiri sedikit bungkuk untuk mengungkapkan perasaan yang sama.

    "Lin, aku suka denganmu, aku cinta kamu. Apa kau bersedia menjadi pacarku?"

    Aku seperti cairan panas yang disatukan dengan sebongkah es, Menjadi kaku dan sulit bergerak. Aku nyaris tak sanggung menatap matanya bahkan untuk menjawab kalimat yang baru saja ia ungkapkan.

    "Iya, aaku m mau kok, tapi jangan sampai sekolah kita terganggu ya".
    "Iya"

    Sungguh! Kini aku lega. Tak ku sangka berniat hanya untuk memenuhi permintaan sahabatku dan akhirnya aku sendiri malah menjadi luluh hatinya. Aku dan dia resmi berpacaran, ditengah suasana ramadhan yang indah itu.

    Hari demi hari aku semakin memudarkan perasaan cintaku terhadap Nara. Ia sering menghilang entah kemana. Ia selalu beralasan terhadap HPnya karena di servis atau di charge, atau bahkan sedang dimatikan. Seperti itu setiap hari, belum ada dua minggu aku menjalin hubungan aku sudah seperti sayur mendidih dari pancinya. Aku telah mencapai titik lelahku untuk berhubungan dengannya. Aku sengaja membuat berbagai alasan agar aku bisa mengakhiri hubunganku dengan Nara. Dia itu seperti tak ada niat untuk berpacaran denganku. Buktinya saja ia jarang memberiku kabar, tak pernah romantis, dan seperti menurun malah kualitas hidupku. Ya sudah, pada hari sebelum lebaran tiba aku memutus hubunganku dengannya. Dia sangat marah, mungkin kecewa. Aku fikir, dia marah bukan denganku melainkan dengan teman-teman dekatku seperti Hani dan Nisa yang berkerabat dengannyal. Menuduh mereka sebagai penghasutku memutuskan hubungan ini. Namun tidak.

    Berhari-hari Nara diterjang rasa marah, sakit hati, dan kecewa. Aku tahu itu. Aku juga merasakannya. Namun perlahan lenyap juga cerita tentangku di memori kehidupannya. Aku pun begitu. Aku dengan mudah menghilangkan rasa sakit hati yang pernah menancap di hati yang masih suci ini.

    Bertahun-tahun aku melampaui kehidupan tanpa dirinya di kehidupanku. Berkat keberaniannya menyatakan cinta langsung di hadapanku, ia telah menjadi pacar pertama di kehidupanku meski aku tak berharap bahwa suatu saat ia menjadi cinta terakhir. Sudahlah cukup. Walau kadang bertemu karena kita adalah teman satu desa. Memang ia sudah menjadi masa laluku. Namun ia masih saja aku kenang. Sungguh!

    Profil Penulis:
    Karya : Lulu Aundhia Allam
    Usia : 17 tahun
    Asal Kota : Yogyakarta
    Facebook : Lulu Aundhia
    Twitter : @allam_lulu

    Tidak ada komentar:

    Poskan Komentar