• Artikel Terbaru

    Senin, 27 Februari 2017

    Cerpen Lucu - Hp, SMS dan SMP

    Advertisement
    Advertisement
    Dibawah ini adalah sebuah cerpen lucu yang dituliskan oleh pembaca yang bernama Mohammad Nofrizan dengan judul Hp, SMS dan SMP. Silahkan dibaca sampai selesai yah :

    HP, SMS, dan SMP
    Karya Mohammad Nofrizan

    Tahun 2006, sewaktu gue masih duduk di kelas 1 SMP. Pada tahun itu gue belum terlalu mengenal Maria Ozawa. Cuma tahu namanya doang. Gak tahu apa pekerjaannya. Gak tahu seperti apa tipe cowok idamannya.

    Pada tahun itu mungkin gue hanyalah seorang anak laki-laki yang hina. Gue menggunakan tangan yang sama untuk menyeka ingus dan keringat. Kadang tangan itu juga gue gunakan untuk garuk-garuk pantat. Kadang juga gue gunakan untuk sekedar cicip-cicip molen pisang di kantin sekolah.

    Di tahun itu, hp (handphone) adalah barang mewah untuk ukuran anak SMP. Apalagi anak SMP dengan titit yang masih kecil. Dan baru mengenal mimpi basah. Di tahun itu juga smartphone (hp pintar yang bisa menjawab soal-soal ujian) belum terlalu marak digunakan.

    Beberapa teman gue yang kayaknya cukup gaul ternyata udah duluan punya hp. Katanya, kalau mau dibilang gaul, harus punya hp. Kalau mau kenal sama cewek, harus punya hp. Kalau mau dapat pacar cantik, harus punya hp.

    Karena takut dianggap cowok cupu yang bisanya cuma nonton Power Ranger dan Doraemon, gue putuskan harus punya hp juga. Ini menyangkut masa depan gue untuk punya pacar cantik.

    Gue dengan berbekal kemampuan merengek dan guling-guling seperti anak babi lepas di depan orang tua, akhirnya minta dibelikan hp. Bahasa lainnya, maksa agar dibelikan hp.

    “Pokoknya aku mau beli hp.”, rengek gue di depan Ayah gue.
    “Hp buat apa? Mana ada anak SMP yang punya hp?!”, bujuk Ayah gue.

    Dengan muka manyun gue menjawab, “Teman-teman yang lain udah punya hp. Hp-nya kan bisa dipake buat komunikasi sama teman sekolah. Nanya tentang pelajaran. Nanya tentang tugas.”

    “Loh.”, jawab Ayah. “Kalau cuma nanya tugas kan bisa pakai hp Ayah. Gak perlu beli hp baru.”
    “Aku bisa pake hp-nya buat nelfon tukang sunat.”, balas gue, sedikit kesal.
    “Tapi kamu kan udah sunat?!”, debat Ayah gue.
    “Aku juga bisa pake hp-nya buat nelfon Mak Erot.”, balas gue lagi, semakin kesal.

    Ayah gue terdiam beberapa detik. Dia gak mengeluarkan sepatah kata pun. Gue tatap matanya. Matanya seakan-akan menunjukkan bahwa dia ingin mengatakan, “Ide yang sangat cemerlang, anakku!”.

    Ayah gue masih diam. Tanpa kata-kata. Gue yang semakin khawatir karena takut gak bakalan dapat pacar cantik, dengan sadis mengancam orang tua yang membesarkan gue selama 13 tahun.

    “Pokoknya, kalau gak dibeliin hp, aku mau berhenti makan. Aku mau berhenti mandi. Aku juga berhenti minum susu.”, ancam gue dengan penuh keyakinan.
    “Y-yang berhenti minum susu gak jadi. Tadi khilaf.”, tambah gue.

    Keesokan harinya, gue dan Ayah pergi ke toko yang menjual hp.

    ***

    Gue masih ingat, hp gue pertama kali, Sony Erricson tipe K310i. Hp jenis itu mungkin udah punah di zaman sekarang. Kalau pun masih ada, paling-paling cuma dipake untuk menyanggah meja yang kakinya pendek sebelah.

    Sewaktu jam istirahat sekolah, gue suka memamerkan hp baru itu di depan teman-teman gue. Banyak yang suka minjam hp gue sekedar untuk foto-foto dengan pose seperti kuda nil di musim kawin. Ada juga yang minjam karena suka main game.

    Meyra, teman sekelas gue yang waktu itu punya hp paling mahal, meminta gue untuk bertukar nomor hp. Entah untuk apa. Mungkin dia adalah agen marketing dari sebuah perusahaan perkreditan yang sedang mencari pelanggan.

    Malam harinya, sebuah nomor yang gak gue kenal datang menelfon. Ini adalah telfon pertama yang masuk selain telfon dari Ayah gue. Semoga ini bukan telfon dari perampok yang minta tebusan karena anak kucing gue diculik.

    Gue pun mengangkat telfon itu, “Halloo.”, ucap gue dengan suara seperti bayi tikus.

    “Tut tut tut.”, telfonnya tiba-tiba terputus ketika suara gue berdengung indah.

    Gak lama setelah itu, masuklah sebuah sms. Kayaknya ini juga sms pertama yang gue terima selain sms dari Ayah gue. “Malam, Nop. Sorry tadi lagi iseng. Mau nyoba nomornya aktif apa enggak. Heheh.”

    “Malam juga. Iya gak apa-apa. Ini siapa ya?!”, balas gue, bingung.
    “Oh iya, ini aku, Meyra. Tadi pagi kan kita tukeran nomor hp”, balas si nomor misterius yang ternyata adalah Meyra.

    Lalu gue balas lagi, “Ooh, Meyra yang itu. Iya iya, Meyra. Aku tadi lupa ngesave nomor kamu.”.

    Akhirnya, salah satu tujuan gue untuk punya hp udah tercapai : kenalan sama cewek.

    Sekedar informasi, kalimat-kalimat isi sms gue dan Meyra udah diterjemahkan ke dalam bahasa manusia normal. Karena bahasa asli isi sms kami adalah bahasa alay siluman ulat bulu.

    Semenjak saat itu, gue sering smsan sama Meyra. Dalam sehari, nada dering sms di hp gue, Letto-Ruang Rindu, bisa berbunyi sampai puluhan kali. Dia sering memulai percakapan duluan. Dia juga suka bercerita tentang apa pun lewat sms. Kadang gue juga suka mengirim sms lelucon ke Meyra.

    Tapi, berkebalikan keadaannya kalau di sekolah. Kami gak pernah saling bicara. Setiap ketemu ataupun berpapasan, gue cuma memandang wajahnya sebentar, lalu gue memalingkan wajah. Gue gak berani  ngajak dia ngomong. Bahkan gue gak berani menatap matanya. Gue lemah! Kayaknya Tuhan memberikan gue kelamin yang salah.

    Kalau dipikir-pikir lucu juga. Dua anak SMP, cowok dan cewek, yang begitu cerewetnya dalam percakapan lewat sms, tapi gak pernah berani untuk saling bicara di dunia nyata. Gue sering membaca sms Meyra yang berisi kata “hahaha”, tapi sama sekali gak pernah melihat dia ketawa secara langsung.

    Bisa gue bayangkan, kalau gue pacaran sama Meyra, kami bakal jadian lewat sms. Kami juga bakal pacaran lewat sms. Kami pegangan tangan lewat sms. Dan pada akhirnya kami juga bakalan putus lewat sms.

    “Aku pegang tangan kamu nih.”, sms gue ke Meyra.
    “Aku juga pegang tangan kamu nih.”, sms Meyra ke gue.
    “Aku cium pipi kamu nih.”, balas gue lagi ke Meyra.
    “Aku gampar pipi kamu nih.”, balas Meyra lagi ke gue.

    ***

    Kira-kira udah sekitar 2 minggu gue dan Meyra saling bercerita lewat sms. Gue semakin mengenal Meyra lebih jauh. Gue cukup tahu latar belakang keluarganya. Gue juga cukup tahu apa yang dia suka dan apa yang dia gak suka. Pokoknya gue udah tahu banyak tentang Meyra.

    Menurut gue, Meyra termasuk tipe cewek yang cukup agresif. Bisa dibilang berjiwa perhatian. Dia sering mengsms gue duluan. Dia suka menanyakan gue udah makan apa belum. Dia juga suka menanyakan gue udah sunat apa belum. Dan dulu dia juga yang mengajak kami untuk bertukar nomor hp.

    Tapi tetap saja. Di sekolah kami gak pernah saling bicara sama sekali. Di sekolah kami gak pernah bercanda dan tertawa bersama seperti apa yang kami lakukan lewat sms. Gue masih belum punya keberanian untuk ngajak dia ngobrol.

    Meyra sering menanyakan lewat sms, kenapa gue gak pernah berani ngajak dia ngomong. Dan gue cuma bisa menjawab : “Gak kenapa-napa sih heheh. Nanti juga berani kok.”. Meyra selalu kesal setiap gue menjawab pertanyaannya itu.

    Hingga di suatu malam, hp gue berdering. Seperti biasanya, ini pasti sms dari Meyra. Gue yang waktu itu sedang ngupil sambil latihan kayang untuk praktek pelajaran olahraga, bergegas mengambil hp.

    Gue buka inbox, “Aku benci sama kamu.”

    Gue bingung, kenapa Meyra mengirim sms seperti itu. “Kamu kenapa? Aku ada salah sama kamu? Aku ngehamilin komodo peliharaan Ayah kamu ya?”.

    Dua menit kemudian, “Kamu bisa ya secerewet ini di sms?! Tapi di sekolah kamu kayak orang yang gak kenal sama aku.”, balas Meyra, kayaknya agak marah.

    Gue bingung harus membalas apa. Gak mungkin gue bilang : “karena kalau aku ngajak kamu ngobrol nanti kamu bisa hamil kembar delapan, Mey”. Ini bukan waktunya bercanda.

    Gue belum sempat membalas sms dari Meyra, tiba-tiba datang sms lagi.

    “Ini sms aku terakhir ke kamu. Aku gak bakal pernah ngesms kamu lagi. Aku udah berusaha nunggu. Tapi kamu tetep gak berani ngajak aku ngomong.”, balas Meyra. Marah.

    Gue pikir Meyra sedang PMS, jadi gue biarkan dia beberapa saat. Karena katanya, di suatu keadaan terkadang cewek butuh waktu untuk sendiri. Tapi kayaknya ini benar-benar sms terakhir dari Meyra.

    ***

    Seminggu setelah malam itu. Seminggu juga tanpa sms dari Meyra. Meyra benar-benar marah. Bahkan sms gue gak pernah dibalas sama sekali.

    Waktu itu, jumlah kontak di hp gue bisa dihitung menggunakan jari. Mungkin jumlahnya sekitar belasan. Tadi maksudnya bisa dihitung menggunakan 4 buah jari. Isinya cuma nomor hp keluarga gue, beberapa teman gue, dan Meyra. Hp gue benar-benar sepi setelah Meyra berhenti mengsms gue. Ternyata benar kata Ayah gue, gak ada gunanya gue punya hp. Perkataan orang tua memang selalu benar.

    Kebiasaan gue waktu itu adalah menelfon ke nomor hp orang, lalu memutuskan telfonnya tiba-tiba saat orang tersebut ngomong “Hallo”. Kalau diingat-ingat, ini adalah modus yang dilakukan Meyra sewaktu pertama kali kenalan sama gue. Bisa juga dibilang ini adalah pelampiasan gue karena ditinggal Meyra. Gue juga gak tau kenapa kerjaan ini begitu menyenangkan sewaktu SMP.

    Dulu sebelum Meyra marah, gue sering melakukan hal semacam ini ke dia. Kadang kalau lagi gak ada kerjaan, gue telfon nomor Meyra, lalu saat Meyra mengangkat telfonnya, telfonnya gue putus.

    Meyra juga merespon keisengan gue ini dengan positif. Dia gak pernah marah. Malah dia sering tertawa karena tahu tindakan bodoh gue ini hanya sekedar bercanda.

    “Ih, kamu iseng banget sih. Aku kan lagi tidur. Hehehe.”, sms dari Meyra ke gue.

    Kadang dia juga merespon seperti ini. “Ih, kamu iseng banget sih. Aku kan lagi main bekel.”.

    Kadang juga, Meyra merespon seperti ini. “Ih, kamu iseng banget sih. Aku kan lagi gali kubur kakek-kakek yang aku bunuh kemaren.”

    ***

    Lama-kelamaan, gue semakin merasa bosan karena gak punya teman smsan. Gue pengen punya teman baru untuk smsan setiap malam.

    Akhirnya, otak kriminal gue berfungsi. Biasanya yang berfungsi adalah otak jorok gue. Gue harus melakukan eksperimen baru : menelfon ke nomor hp yang gue tekan secara acak. Mungkin ini adalah kesempatan gue untuk menemukan jodoh.

    Bisa dibayangkan, sewaktu gue sudah menikah nanti. Lalu anak kami bertanya bagaimana awalnya gue dan istri gue bisa berkenalan. Lalu akan gue jawab, “Nak, sewaktu SMP dulu Ayah suka iseng menelfon ke nomor yang ditekan secara acak. Dan ternyata nyambung ke nomor hp Ibu kamu. Tirulah Ayahmu yang hebat ini, wahai anakku!”.

    Akhirnya, di suatu malam yang tetap tanpa sms dari Meyra, gue memulai pekerjaan mulia itu.

    Gue ambil hp, tangan gue terasa agak gemetar, badan gue terasa lemas, kepala gue terasa pusing, keringat gue mulai bercucuran, ternyata gue belum makan malam. Akhirnya gue putuskan untuk makan malam terlebih dahulu.

    30 menit kemudian..

    Selesai makan malam, kali ini gue yakin gak ada lagi yang bisa menghalangi niat baik dan mulia ini. Gue harus lakukan malam itu juga!

    Gue ambil hp, lalu gue tekan 6 digit awal yang merupakan kode nomor hp di wilayah gue saat itu. Ini supaya bisa dipastikan yang gue telfon adalah orang yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal gue. Lalu, 6 digit sisanya gue tekan secara acak.

    Nomor hp pertama yang gue coba, telinga gue siap beraksi. Gue tunggu sampai ada jawaban. Ternyata cewek. Suaranya lembut.

    “Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi. Mohon periksa kembali nomor tujuan anda.”, ternyata itu suara operator.

    Kampret!

    Gue gak menyerah. Gue coba menekan nomor kedua secara acak.

    “Tuut tuut tuut.”, suara nada tunggu telfon.

    Gue benar-benar gugup. Ketek gue berkeringat. Agak bau asem.

    “Haloo.”, ucap nomor yang gue telfon tadi.

    Suaranya agak berat. Kayaknya bapak-bapak. Bisa gue tebak dia adalah bapak-bapak dengan kulit gelap dan berbadan tegap. Idaman ibu-ibu zaman sekarang.

    Gue yang kaget mendengar suara itu mendadak memutuskan telfon. Bapak-bapak bukanlah target gue. Gue takut diperkosa bapak-bapak. Gue takut nanti tubuh gue yang montok ini dinikmati oleh bapak-bapak berkulit gelap dan berbadan tegap itu.

    Gagal.

    Kampret!

    Gue tetap gak menyerah. Kali ini gue yakin bakalan nyambung ke nomor hp cewek dengan suara lembut. Gue coba untuk yang ketiga kalinya.

    Gue tekan nomor secara acak lagi. “Tuut tuut tuut.”.

    “Hallooo cyiin. Selamat malaam!”, jawab penerima telfon dari seberang sana.

    Suaranya haluuus banget. Serak-serak berlendir. Persis kayak suara bencong. Emang bencong sih. Lagi-lagi target gue salah.

    Kampret!

    Hal semacam itu gue lakukan setiap malam.

    Kalau yang menjawab telfon suaranya cewek, maka akan langsung gue sms seperti ini : “Hai, boleh kenalan?”. Kalau yang menjawab suaranya kayak cowok, telfonnya langsung gue putus. Kadang orang yang gue kerjain sering menelfon balik dan bertanya ada apa. Gue pun menjawab : “Maaf, tadi salah tekan nomor”.

    Hasil dari keisengan ini lumayan juga. Gue bisa menambah kenalan. Gue bisa mendapat teman baru untuk sekedar smsan tiap malam. Walaupun kebanyakan dari mereka bertempat tinggal cukup jauh dari gue, dan gak mungkin bisa ketemuan. Karena anak SMP gak boleh main jauh-jauh. Takutnya diculik tante-tante montok.

    ***
    Waktu terus berjalan. Entah udah berapa lama Meyra berhenti mengsms gue. Mungkin sekitar 2 minggu.

    Sabtu pagi, pelajaran bahasa Inggris. Kebetulan guru bahasa Inggris adalah wali kelas gue. Beliau mengumumkan di depan kelas bahwa banyak laporan negatif dari guru-guru lain tentang kelas kami. Kelas gue memang terkenal cukup nakal. Sewaktu pelajaran berlangsung, teman-teman di kelas gue suka ngobrol dan bermain-main di kelas. Bahkan hanya sebagian yang serius mendengarkan penjelasan dari guru.

    Karena masalah itu, wali kelas gue memutuskan untuk mengganti posisi duduk kami. Siswa laki-laki dipisahkan cukup jauh supaya gak main-main sewaktu pelajaran. Posisi duduk siswa laki-laki dibuat saling berjauhan. Laki-laki dan perempuan juga dipasangkan menjadi sebangku, agar mereka gak saling ngobrol.

    Entah hari itu dikategorikan hari sial atau hari beruntung bagi gue. Gue dan Meyra dipasangkan menjadi sebangku. Mulai hari itu Meyra adalah temang sebangku gue.

    Gue gugup.
    Gue bingung.
    Gue malu.

    Gue gak tau harus berbuat apa. Karena waktu itu Meyra masih marah sama gue. Bahkan udah 2 minggu. Gue pun berusaha untuk tetap tenang dan menganggap gak terjadi apa-apa.

    Pelajaran pun dimulai. Materi pelajaran bahasa Inggris waktu itu adalah tentang ungkapan-ungkapan dalam meminta maaf. Guru bahasa Inggris mengajari kami berbagai ungkapan dalam bahasa Inggris yang digunakan untuk meminta maaf. Beliau sangat menekankan pada aspek speaking. Lidah gue hampir patah mengucapkan kalimat-kalimat dalam bahasa Inggris.

    Rasanya sial sekali hari itu. Meyra memasang muka jutek sepanjang pelajaran bahasa Inggris. Artinya dia benar-benar masih marah.

    Di akhir pelajaran, guru bahasa Inggris memberikan sebuah tugas untuk minggu depan. Beliau menugaskan kami untuk membuat dialog berbahasa Inggris tentang ungkapan permintaan maaf dan mempraktekkannya di depan kelas. Tugasnya berkelompok, dua orang, bersama teman sebangku.

    Mati gue!

    Kayaknya hari kiamat sudah datang.

    Mau nggak mau, gue terpaksa harus satu kelompok sama Meyra. Entah seperti apa respon Meyra. Gue takut dia malah pindah sekolah cuma gara-gara gak sudi satu kelompok sama gue.

    Lalu guru bahasa Inggris meninggalkan kelas. Gue bingung. Gue salah tingkah. Meyra sibuk merapikan buku dan alat tulisnya.

    Gue coba menatap Meyra yang sedang sibuk merapikan bukunya. Meyra pun tersadar. Dia membelokkan wajahnya ke arah gue. Wajahnya jutek.

    Sekarang Meyra membalas tatapan gue. Wajahnya tetap jutek. Kami berdua tatap-tatapan selama beberapa detik.

    Lalu, gue dengan muka bego, menggerakkan lidah dan mengeluarkan suara.

    “N-nanti malem.. ngerjain tugasnya.. bareng yuk?!”, tanya gue, sedikit gagap.

    Meyra terdiam sesaat. Wajah juteknya berubah menjadi ekspresi datar. Tatapannya kosong. Semoga dia gak lagi kesurupan.

    Meyra masih terdiam sambil menatap gue.

    “Ayuk..”, jawab Meyra. Suaranya halus. Lembut.

    Gue tersenyum mendengar jawaban Meyra. Gue tambahkan dengan tertawa kecil.

    Meyra perlahan membalas senyuman gue. Senyuman Meyra manis banget. Ini pertama kalinya Meyra tersenyum di depan gue.

    Kami berdua tatap-tatapan.
    Kami berdua senyum-senyuman.
    Kami berdua saling tertawa kecil.
    Kami berdua.. saling jatuh cinta.

    Profil Penulis:
    Nama : Mohammad Nofrizan
    Panggilan : Inoph
    Status : Jomblo bertanggung jawab dan tidak sombong

    Facebook : Mohammad Nofrizan II
    Twitter & instagram : @mohammadnfrzn

    Tidak ada komentar:

    Poskan Komentar