• Artikel Terbaru

    Senin, 27 Februari 2017

    Cerpen Lucu - Keceriaan Dan Kesedihan

    Advertisement
    Advertisement
    Dibawah ini adalah sebuah cerpen lucu yang telah dituliskan oleh seorang pembaca yang bernama Dian Permadi dengan judul Keceriaan Dan Kesedihan. Silahkan dibaca sampai selesai yah :

    KECERIAAN DAN KESEDIHAN
    Karya Dian Permadi

    Dian Permadi, Nama lengkapnya. Atau Achong,begitulah teman teman biasa memanggilnya. Seorang pemuda yang baru bekerja dibidang industry. Di jam jam istirahat kerjanya ..., “hoam” saya menguap. Enak sekali menguap di jam jam istirahat kerja begini. Setelah menguap saya mencoba memesan segelas kopi di warung siibi kantin, yang sering saya kunjungi. Ketika pesanan kopi saya rampung, tiba tiba sebersit kenangan timbul dalam benak pikiran saya, apalagi ketika menyeruput segelas kopi susu yang dulu pernah saya minum bersama teman sewaktu SMP dulu.

    Sepucuk rindu pun menyerang, menusuk nusuk rongga dada saya. Ah, sepertinya saya sedang ingin merasakan candaannya, kekonyolannya, atau juga kejorokan masing masingdari kami, danmemang itu yang membuat saya rindu bertalu talu dengan seorang teman tempo dulu itu.

    Tiba tiba, sebuah ide menyala dalam tempurung kepala saya, bagaimana kalau setelah pulang kerja, saya berkunjung kerumahnya, dengan alasan hanya untuk bersilaturahmi dan mengenang kisah klasik yang konyol abis.

    Sepulangsaya bekerja, saya langsung menuju rumah teman saya. Diperjalanan   terbayangkan bagaimana jadinya nanti,   ketika dipertemukan lagi, setelah bertahun tahun tidak bertemu. Sampai sampai rindu bersarang indah dalam hati dan jiwa ini.

    Sesampainya di depan rumahnya, seperti biasa saya memanggil manggil namanya, “Aldiiiii”berkali kalisampai akhirnya ada yang menjawab, “Tunggu,” beberapa menit kemudian munculah seorang priadari balik pintu, lantas bertanya“Mau kesiapa mas?”Sontak saya kaget dan langsung bertanya.

    “Inirumahnya Aldi?”
    “Oh, maaf mas, rumah Aldi mah yang itu,” jawabnya dengan menunjuk sebuah rumah sambil tersenyum simpul.Tanpa basa basi lagi saya langsung permisi, maklum saya malu, salah alamat hehe. Setelah itu saya melakukan hal yang sama pada rumah yang ditunjukan pria itu.

    Alangkah terkejutnya saya ketika itu, bak petir yang menyambar sebuah pohon besar sampai tumbang. Setelah saya memanggil “Aldi” berkali kali dan tak ada jawaban sama sekali, ternyata rumah yang ditunjukan oleh pria itu adalah rumah kosong yang hendak di kontrakan, ujar seorang Ibu yang sedang hendak masuk ke rumah pria tadi.

    Betapa getir saya sewaktu tahu ternyata itu adalah ibunya Aldi dan pria tadi itu adalah dia, Aldi, teman saya yang ketika SMP wajahnya sedikit coklat gelap, rambutnya sedikit gundul atau bias dibilang saja botak. Berbeda dengan Aldi yang saya jumpai sekarang, yang wajahnya seputih bengkoang tanpa ada noda sedikit pun, yang rambutnya gondrong,dan sedikit berjambak,sepintas saya lihat layaknya vokalis Nirvana, Kurt Cobain.

    Kembali pada kesalah pahaman dan kepanglingan saya padanya ketika hendak ingin menyapa “Woi,Aldi. Lama tak jumpa?“dia pun menjawab hanya dengan senyuman sambil menyodorkan tangan kanannya untuk berjabat tangan. Tidak! Ternyata dia tidak hendak demikian, tetapi dia malah memukul perut saya. Lantas berkata “Kemana saja atuh, Juragan?!” kami pun tertawa bersama, memecah riak rindu, lama tak jumpa, dan hampir tandas menjadi debu.

    30 menit yang lalu,percakapan kami sedikit canggung, tanpa ada tingkah dan polah serta tutur kata yang asyik, menarik, dan konyol seperti tempo jaman SMP dulu. Mungkin karena kami baru bertemu kembali, setelah sekian lamanya hanya memeluk tabu rindu,atau mungkin karena belum tercipta sebuah topik yang hangat, menarik, renyah, menyegarkan nan seru untuk memulai kekonyolannya, yang biasa dilakukannya.Dan ternyata, Aldi yang saya kagumi dan saya harapkan,kini semua tingkah kekonyolannya telah musnah dimakan jaman dan usia.

    Saya sempat menceritakan tentang masa ketika di smp dulu. Tapidia hanya tersenyum kecil, hal itu membuat saya bertanya, “Kenapa Aldi yang sekarang, tidak seperti Aldi yang konyol, yang ‘ku kenal seperti di bangku smp dulu?”Diapun menjawab dengan nada yang datar nan serius“Karena, sekarang bukan umurnya atau jamannya lagi Chong.Semua ada zamannya buat hurahura atau huru hara yang membuat kita ketawa ketiwi. Dan sekarang bukan zamannya lagi buat kita yang sudah berumur kepala dua.”Mendengarj awabannya itu,saya sedikit terennyuh dan heran, Aldi yang dulunya asik, konyol, dan kocak abis,sekarang menjadi Aldi yang bijak dan dewasa abis.

    Ketika saya pamit pulang, dia menitip sebuah pesan pada saya; “jangan sampai tingkah polah dan tutur kata yang konyol sewaktu kita di SMP dulu sampai membuat kita berbalik kebelakang dan terus memilih dalam lingkaran kekanakkanakan!”

    Profil Penulis:
    Belajar menjadi pengarang sama penulis alama fb: dpermadi45@yahoo.com

    Tidak ada komentar:

    Poskan Komentar